-->

Resume buku “Tauhid dan Sains” karya Dr.Osman bakar







Kesadaran Religius dan Semangat Ilmiah dalam Tradisi Islam
Islam adalah sebuah cara berbuat dan melakukan sesuatu sekaligus sebuah cara untuk mengetahui. Aspek mengetahui adalah yang lebih penting karena secara esensial Islam adalah agama yang memandang pengetahuan sebagai cara utama bagi penyelamatan jiwa dan pencapaian kesejahteraan manusia dalam kehidupan kini dan nanti. Memiliki kesadaran akan keesaan Tuhan berarti meneguhkan kebenaran bahwa Tuhan adalah Satu dalam Esensi-Nya, dalam Nama-nama, dan Sifat-sifat-Nya, dan dalam Perbuatan-Nya. Satu konsekuensi penting dari pengukuhan kebenaran sentral ini adalah bahwa orang harus memerima realitas objektif kesatuan alam semesta. Semangat untuk mencari kebenaran dan objektivitas, penghormatan pada bukti empiris dengan dasar yang kuat, dan pikiran yang terampil dalam pengklasifikasian merupakan sebagian ciri yang amat luar biasa dari para ilmuwan Muslim awal sebagaimana yang dapat dilihat dengan jelas dalam kajian-kajian mereka tentang jurisprudensi (fiqh) dan hadis Nabi. Dalam Islam, logika tak pernah dianggap berlawanan dengan keyakinan agama. Logika jika digunakan secara tepat dan tidak diselewengkan oleh nafsu-nafsu rendah dapat mengarah ke kebenaran sesungguhnya. Manthiq di lingkungan Islam menjadi alat yang paling penting bukan hanya bagi ilmu-ilmu filsafat tetapi juga bagi ilmu-ilmu agama. Sebagaimana luasnya penggunaan logika tidak membawa pada rasionalisme sekuler yang memberontak terhadap Tuhan dan agama, demikian pula luasnya praktik eksperimentasi tidak menggiring pada sebuah empirisme yang memandang pengalaman inderawi sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Dalam Al-quran surat 32:7-9, dijelaskan bahwa manusia telah dilengkapi dengan semua fakultas yang dibutuhkan untuk mengetahui hal yang perlu diketahuinya. Fakta bahwa indera fisik, sebagai alat untuk mendapatkan pengetahuan, memiliki keterbatasan-keterbatasan tersendiri. Disinilah datangnya intervensi kesadaran religius. Kesadaran religius terhadap tauhid merupakan sumber dari semangat ilmiah dalam seluruh wilayah pengetahuan. Aspek fisik dipandang sebagai realitas tingkat terendah dan yang tertinggi adalah Tuhan. Aspek fisik selalu terkait dengan Tuhan, saat ia terlepas dari Tuhan, seketika itu pula ia lenyap. Bukanlah keraguan religius yang mengilhami kisah sukses sains eksperimentasi Muslim melainkan semangat eksperimental Muslim diilhami oleh keyakinan tentang Tuhan sebagai Yang Absolut dan sebagai Sumber dari semua kebenaran. Al-Quran mengimbau manusia untuk membuktikan semua klaim kebenaran dan pengetahuan untuk memastikan bahwa keadilan telah ditegakkan dan bahwa keraguan membukakan jalan bagi kepastian. Eksperimentasi ilmiah hanyalah salah satu dari berbagai bentuk proses pembuktian ini.


Masalah Metodologi Dalam Sains Islam
Masalah pokok dalam sains adalah tentang metodologi. Terdapat perbedaan-perbedaan fundamental antara konsepsi metodologi sains dalam Islam, atau dalam semua peradaban tradisional lainnya, misalnya peradaban Cina atau India, dengan konsepsi metodologi dalam sains modern. Gagasan bahwa hanya ada satu jenis sains tentang alam yang mungkin ada yakni melalui penggunaan Metode Ilmiah, sangat memengaruhi seluruh cara pandang kita mengenai sains-sains pra-modern. Salah satu penemuan paling penting yang ditunjukkan oleh Profesor Nasr tentang sains Islam adalah bahwa tidak ada satu metode pun yang digunakan dalam sains itu yang mengenyampingkan metode-metode lainnya. Para ilmuwan Muslim, dalam menanamkan dan memgembangkan beraneka ragam sains, telah menggunakan setiap jalan pengetahuan yang terbuka bagi manusia. Gagasan tentang kemajemukan metodologi kini telah mendapat pengakuan umum di kalangan sejarahwan dan filosof sains kontemporer. Kesadaran bahwa proses kreatif yang telah menghasilkan sains itu jauh lebih kompleks daripada apa yang telah dipopulerkan sebagai Metode Ilmiah. Mengakui realitas kemajemukan metodologi dan menerima penganjurannya adalah satu hal; sementara memiliki pandangan yang menyatu tentang kemajemukan metodologi itu adalah hal yang lain lagi. Metodologi pengetahuan Islam tepatnya berkaitan dengan hubungan esensial antara hierarki fakultas pengetahuan manusia dan hierarki Alam Semesta, dan dengan prinsip-prinsip yang mengatur hubungan itu.

Posisi Keraguan Dalam Epistemologi Islam : Pengalaman Filosofis Al-Ghazzali
Sebuah karya oleh Abu Haid Muhammad al-Ghazzali secara khusus membahas mengenai masalah keraguan dalam sistem filsafatnya adalah Al-Munqidz min adh-Dhalal. Dalam Al-Munqidz, Al-Ghazzali menceritakan bagaimana pada masa puncak kehidupannya dia terlanda penyakit jiwa yang misterius, yang berlangung sekitar dua bulan dan selama masa itu dia “skeptis terhadap kenyataan, tetapi tidak terhadap ucapan dan doktrin. Al-Ghazzali mengatakan pada kita bahwa keraguan timbul dalam upaya mencari kepastian, yakni pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu “sebagaimana adanya” (haqa’iq al-umur). Pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu “sebagaimana adanya” inilah yang disebut sebagai al-‘ilm al-yaqin, sebuah pengetahuan yang pasti yang didedifinisikan sebagai “pengetahuan yang di dalamnya hal yang diketahui menjadi sedemikian nyata sehingga tak ada keraguan yang melekat padanya, dan tidak pula disertai oleh kemungkinan kesalahan atau kepalsuan, dan bahkan pikiran pun tak dapat menduga adanya kemugkinan seperti itu”. Dalam Islam, pencarian  akan haqa’iq al-umur berakar dari doa Rasulullah saw. yang terkenal, dimana beliau memohon agar Tuhan menampakkan padanya “segala sesuatu sebagaimana adanya.” Doa Rasulullah saw. ini pada dasarnya merupakan doa sufi karena merujuk pada realitas suprarasional atau batiniah dari segala sesuatu. Dan karena alasan inilah, para sufi merupakan orang-orang beriman yang paling setia dan konsisten dalam memohonkan doa Rasulullah ini. Pencarian kepastian oleh Al-Ghazzali, sebagaimana yang didefinisikannya, tidak berbeda dari pencarian kaum sufi ini. Ada daya internal dan daya eksternal yang bekerja mendorong pencarian ke titik yang melahirkan periode keraguan yang amat kental di masa muda Al-Ghazzali. Secara internal, kecenderungan intelektual alamiahnya adalah mencari makna sejati dari segala sesuatu. Sedangkan daya eksternal adalah berbagai aliran intelektual, religious, dan spiritual yang membentuk pemikiran manusia. Al-Ghazzali menapaki kelahiran keraguannya melalui aliran-aliran ini. Ia heran melihat keberagaman agama dan keimanan, dan kenyataan bahwa penganut setiap agama mengikuti secara buta kepercayaan yang mereka warisi. Satu konsekuensi dari refleksi kritisnya terhadap fenomena beragama ini adalah bahwa ia mulau mempertanyakan kepercayaan agama yang diwarisi secara tidak kritis. Al-Ghazzali bukan mengalami skeptis filosofis atau religious, tetapi krisis tersebut adalah krisis epistemologis dan metodologis. Pengetahuan yang dihayati membutuhkan transformasi wujud orang yang mengetahui. Karakteristik khas cara mengetahui kaum sufi, kata Al-Ghazzali, adalah bahwa cara tersebut menghendaki dihilangkannya penyakit-penyakit hati seperti kesombongan, keterikatan pada dunia dan sekumpulan kebiasaan-kebiasaan tercela dan sifat-sifat jelek lainnya, semua menjadi penghalang realisasi pengetahuan tersebut, untuk dapat memperoleh sebuah hati yang kosong dari segala sesuatu kecuali Allah dan dihiasi dengan pengingatan Tuhan terus menerus. Tradisi intelektual dan spiritual dalam lingkungan kehidupan dan pemikiran Al-Ghazzali membuatnnya sadar betul akan kenyataan bahwa yang menghalangi manusia dari realitas tertinggi ini adalah kegelapan jiwanya sendiri. Oleh karena itu, ketika beralih pada wujud batinnya sendiri, Al-Ghazzali hanya mengikuti jalan tradisi semata, satu-satunya jalan yang, dengan rahmat Allah, dapat menjamin hilangnya hijab tersebut.

Kesatuan antara Sains dan Pengetahuan : Spiritual
Sains-sains pra modern berbeda dengan sains modern dalam hal tujuan, metodologi, sumber-sumber inspirasi dan asumsi-asumsi filosofis mereka tentang manusia, pengetahuan, dan realitas alam semesta. Mengenai posisi sains dalam hubungannya dengan jenis pengetahuan yang lain. Dalam Islam, pengetahuan ini merujuk pada pengetahuan tentang Yang Esa, tentang Tuhan dan Keesaan-Nya. Juga berkaitan dengan manifestasi ruh dalam berbagai tingkat realitas yang membentuk jagat raya. Sumber terpentingnya adalah Al-Quran dan Hadis Nabi.

A.    Al-Quran sebagai sumber sains dan pengetahuan spiritual
            Al-Quran merupakan sumber utama inspirasi pandangan Muslim tentang keterpaudan semua jenis pengetahuan. Menurut pandangan Al-Quran, pengetahuan manusia tentang benda-benda maupun hal-hal ruhaniah menjadi mungkin karena Tuhan telah memberinya fakultas-fakultas yang dibutuhkan untuk mengetahui. Islam, pada kenyataannya, memberi pengabsahan pada sebuah sains hanya jika ia secara organik berkaitan dengan pengetahuan tentang Tuhan dan tentang dunia ruh. Menurut seorang ilmuwan Muslim yang termasyhur, Ibn Sina, sebuah sains disebut sains yang sejati jika ia menghubungkan pengetahuan tentang dunia dengan pengetahuan tentang prinsip Ilahi.

B.     Alam sebagai sumber sains dan pengetahuan spiritual
             Alam merupakan sumber berbagai jenis pengetahua karena sebagai sebuah dunia dan dipandang dalam totalitasnya, realitas alam semesta mencakup berbagai aspek. Eddington dan Whitehead telah dengan tepat memberi penekanan bahwa sains modern adalah jenis pengetahuan yang dipilih secara subjektif karena hanya berurusan dengan aspek-aspek realitas alam semesta yang mampu untuk dipelajari. Disebut sebagai metode ilmiah. Dalam Islam, kesatuan alam semesta dipandang sebagai citra kesatuan Prinsip Ilahi. Tujuan sains Islam untuk memperlihatkan kesatuan alam semesta, yaitu kesalinghubungan seluruh bagian dan aspeknya. Oleh karena itu, sains Islam berupaya untuk mengkaji semua aspek alam semesta yang beraneka ragam dari sudut pandang yang menyatu dan terpadu. Menurut Ikhwan ash-Shafa, “seluruh alam tersusun menurut hubungan-hubungan aritmetis, geometris dan musikal.”
Mengikuti cara phytagorean, yang konsepsi matematikanya tentang alam semesta mudah diterima dalam pandangan dunia Islam, banyak ahli matematik Islam yang berbicara tentang berbagai bentuk geometris. Tujuan mempelajari geometri adalah untuk membantu mempersiapkan jiwa manusia menempuh perjalanan ke dia ruh dan kehidupan yang abadi. Dalam aspek kualitatif, bilangan merupakan citra spiritual pada jiwa manusia sebagai akibat pengulangan kesatuan. Filosof ilmuwan muslim seperti Al-Farabi, Ikhwan ash-Shafa dan Quthbuddin asy-Syirazi memandang penguasaan matematika tidak dapat dikesampingkan dalam upaya memiliki pengetahuan yang tepat mengenai kebenaran-kebenaran spiritual. Dalam Islam, yang alamiah dan yang spiritual saling terikat erat. Alam semesta secara beragam dijabarkan dalam berbagai tradisi agama sebagai efek, manifestasi, simbol, atau refleksi dunia spiritual. Sebaliknya dunia spiritual digambarkan sebagai kausa, prinsip, akar, atau pola dasar dalam semesta. Fenomena alam, dalam dunia makrokosmos dan juga dalam jiwa-jiwa manusia, disebut sebagai ayat (tanda-tanda) Tuhan. Oleh karena itu, alam dipandang sebagai wahyu Ilahi, sebanding dengan Alquran. Menurut al-Ghazzali, segala yang ada di alam kasat mata ini merupakan simbol sesuatu yang ada di alam yang lebih tinggi. Alam yang lebih tingi yang disimbolkan oleh simbol-simbol alamiah adalah alam spiritual. Sains yang secara tradisional disebut sains tentang simbolisme, yang bersifat metafisik.
Sains simbolisme teramat penting dalam menyelidiki kesatuan antara sains dan pengetahuan spiritual. Sains tersebut mensyaratkan pengakuan atas wahyu Ilahi dan intuisi intelektual sebagai dua sumber fundamental yang nyata bagi pengetahuan obejktif. Juga mensyaratkan penerimaan tingkat eksistensi yang lain dari eksistensi fisik realitas hierarkis alam semesta. Syarat-syarat ini bertentangan dengan banyak asumsi dasar sains modern. Para ilmuwan Muslim abad-abad yang lalu telah memperlihatkan bahwa pengetahuan simbolik dan ilmiah tentang alam tidak saling bertentangan atau terpisah. Kenyataannya, pengetahuan simbolik tentang alam membantu untuk menyingapkan signifikasi metailmiah atau metafisik dari fakta-fakta, teori-teori, dan hukum-hukum ilmiah yang ditemukan melalu kajian empiris alam semesta. Hubungan yang harmonis antara pengetahuan ilmiah dan simbolik tentang alam diilustrasikan dengan baik oleh Ibn Sina yang telah menarik fakta-fakta ilmiah dari berbagai bidang ilmu seperti mineralogi, biologi, astronomi, fisika, kosmologi, sosiologi, dan antropologi Ibnu Sina mampu melihat realitas-realitas ini sebagai bagian dari kosmos simbol-simbol yang harus dilalui dalam perjalanan spiritualnya menuju Tuhan. Pengetahuan ilmiah tentang dunia fisik, dapat memainkan peran penting dalam perumusan gagasan tentang perjalanan spiritual melalui kosmos dengan syarat bahwa pengetahuan tradisional tentang simbol-simbol itu ada dan diterima.
Karena alam dipandang sebagai wahyu Ilahi, maka ia merupakan sebuah sumber untuk memperoleh pengetahuan tentnag kebijaksanaan Tuhan. Para ilmuwan Muslim dengan teguh meyakini bahwa kebijaksanaan Tuhan tercermin dengan cara tak terhingga banyaknya dalam ciptaan-Nya. Terdapat banyak ilmuwan dan risalah dalam Islam yang membuktikan kebenaran kesatuan pengetahuan ilmiah dan spiritual di wilayah zoologi. Al-Jahiz, pengarang buku The Book of Animals di bidang zoologi. Menurutnya, tujuan utama kajian zoologi adalah pembuktian eksistensi dan kebijakan Tuhan yang inheren dalam ciptaan-Nya.  Menurut tradisi spiritual Islam, manusia merupakan refleksi total dari Nama-nama dan Sifat-sifat Tuhan, sementara hewan hanya refleksi parsialnya. Keterkaitan yang ada antara sifat bawaan hewan dan dunia spiritual memiliki fungsi spiritual tertentu, yaitu memampukan manusia untuk merenungkan dunia nyata sebagai refleksi dunia spiritual.

C.     Alam sebagai sumber “hukum-hukum Ilahi”
            Aspek utama dari sains modern adalah keberhasilannya untuk semakin banyak menemukan apa yang dalam sejarah intelektual Barat disebut sebagai “hukum-hukum alam”. Namun dalam sains modern, telah kehilangan signifikasi spiritual dan metafisiknya. Jika ingin mempertahankan keterpaduan ini di dunia modern, maka jalan yang mungkin adalah melalui penekanan kembali status metafisik atau spiritual “hukum-hukum alam”. Dalam Islam, tidak pernah ada perpecahan antara “hukum-hukum alam” dengan “hukum-hukum Tuhan”. “Hukum alam” juga hukum Ilahi. Terdapat banyak Hukum Tuhan yang diturunkan pada umat manusia yang disebut dalam Islam sebagai nawamis al-anbiya (hukum-hukum nabi). Ada satu Hukum Tuhan yang mengatur seluruh makhluk disebut namus al-khilwah (hukum penciptaan).
            Alquran mengatakan bahwa setiap spesies hewan merupakan ummah (kommunitas beragam) yang berarti bahwa Tuhan telah mengajarkan suatu hukum untuk setiap spesies wujud. Juga mengatakan bahwa setiap makhluk memiliki wataknya sendiri-sendiri. Tujuan sains Islam adalah untuk mengetahui watak sejati segala sesuatu sebagaimana yang diberikan oleh Tuhan. Memperlihatkan kesatuan “hukum alam” sebagai refleksi dari kesatuan Prinsip Ilahi. Mengenal alam dan hukum setiap spesies wujud berarti mengenal islam atau “sikap tuduk” spesies-spesies itu pada kehendak Ilahi. Menurut Alquran, seluruh makhluk selain manusia adalah Muslim. Dalam tingkat manusia, orang-orang Muslim adalah orang-orang yang tunduk pada hukum Ilahi yang diberlakukan Tuhan padanya.

D.    Pengetahuan Kosmologis sebagai Sumber Kernagka Konseptual bagi Kesatuan Sains dan Pengetahuan Spiritual
            Pengetahuan puncak tentang tauhid adalah sebuah sains metafisika. Antara pengetahuan puncak tauhid dan sains partikular terdapat sebuah pengetahuan yang disebut pengetahuan kosmologis. Al-Farabi memandang kosmologi sebagai cabang metafisik juga berpendapat bahwa kosmologi mungkin diturunkan dari prinsip-prinsip sains partikular. Dalam Islam, kosmologi memainkan peran penting sebagai penghubung antara metafisika murni dan sains-sains partikular itu. Kosmologi merupakan smuber kerangka konseptual bagi kesatuan sains dan pengetahuan spiritual. Sains berhubungan secara organik dengan pengetahuan metafisika tentang tauhid adalah bahwa sains secara konseptual terpadu dalam jenis pengetahuan.
            Kosmologi mampu untuk menjadi “alat integrasi konseptual” karena tujuannya adalah “untuk mengadakan sebuah sains yang memperlihatkan kesalingterikatan segala sesuatu dan hubungan tingkat-tingkat hierarki kosmik satu sama lain dan akhirnya dengan Prinsip Tertinggi. Kosmologi memberi kita pengetahuan tentang keterkaitan ketiga alam ini. Alam spiritual merupakan dasar bagi alam subtil dan alam subtil merupakan dasar bagi alam fisik. Karena tiu menghendaki agar dunia fisik diperlakukan bukan sebagai wilayah otonom yang terputus dari tingkat realitas yang lebih tinggi. Ia menuntut adanya relevansi entitas spiritual dan subtil dalam kajian tentang dunia fisik. Prinsip kosmologis Islam, yang esensial untuk memahami misteri kehidupan, merupakan gagasan tentang jiwa universal (an-nafs al-kulliyyah). Jiwa universlah adalah “jiwa” bagi tatanan alam semesta. Jiwa universal, sebuah entitas yan menggerakkan seluruh kosmos, yang menumbuhkan kehidupan pada tumbuh-tumbuhan dan binatang. Jiwa universal itu sendiri diciptakan oleh Tuhan.

Konsepsi Atomistik tentang Alam dalam Teologi Asy’syariyyah
Dalam sejarah pemikiran Islam, terdapat beberapa konsepsi tentang alam yang berbeda-beda. Yang paling terkenal di antaranya, dan juga yang dirumuskan paling awal, adalah teori tentnag alam yang dinisbatkan kepada para teolog (mutakallimun) mazhab Asy’ariyyah. Teori itu sering dirujuk sebagai konsepsi atomistik tentang alam, karena ia menekankan karakter keterputsan dan atomistik dari amter, ruang, dan waktu. Kecenderungan dan pilihan seseorang yang dipengaruhi oleh ketetapan intelektual dan latar belakang serta sekumpulan faktor-faktor budaya.
A.    Atomismen Muslim dalam Perspektif Historis
            Teori atomisme pertama kali dikembangkan dalam Islam oleh para teolog Mu’tazilah selama paro pertama abad ke-3 H/ke-9 M. Argumen Dhirar bin ‘Amar menolak doktrin bahwa benda terdiri dari dua unsur yang berbeda, atom dan aksiden, dan malah mereduksi benda menjadi “agregat dari aksiden-aksiden, yang, begitu menyatu, menjadi pembawa (atau substratum) bagi aksiden-aksiden lain”. Atomisme telah dianut dengan kuat di kalangan teolog Islam sebagai sebuah teori yang menyatakan dirinya sebagai antitesis Aristotelianisme. Atomisme yang dimulai oleh teolog Mu’tazilah ini kemudian disempurnakan dan dikembangkan secara ekstensif oleh mazhab Asy’ariyyah, khususnya oleh Abu Bakr al-Baqillani. Setelah abad keempat/kesepuluh, atomisme kalam Asy’ariyyahlah yang berkembang dalam Islam.
            Ilmu kalam berakar pada perdebatan teologis dan politis awal di kalangan umat Islam. Debat-debat ini mengakibatkan bermunculannya berbagai kelompok sekretarian. Yang paling terkenal di antara kelompok-kelompok ini adalah Murji’ah, Qadariyah, dan Khawarij. Dari kecenderungan dan manifestasi teologis awal inilah muncul mazhab teologis sistematis yang pertama, yang disebut Mu’tazilah. Faktor eksternal utama yang pertama adalah serangan teologis terhadap ajaran pokok iman Islam. Faktor lainnya adalah diperkenalkannya gagasan filasafat Yunani kepada umat melalui penerjemahan karya-karya Yunani ke dalam bahasa Arab.
            Tantangan ini memiliki sifat ganda, pertama secara metodologis, kedua secara doktrinal. Tingkat metodologis tantangan itu melibatkan penemuan jawaban rasional terhadap persoalan fundamental hubungan antara wahyu dan akal. Pada tingkat doktrinal, melibatkan persoalan pengenalan dan perumusan kriteria yang otentik mengenai ortodoksi atau keislaman dalam menghadapi klaim-kalim keislaman yang saling berselisih. Dalam mazhab Mu’tazilah, tanggapan itu mengalami transformasi dari apa yang pada awalnya sekadar rasionalisasi iman menjadi adopsi kecenderungan rasionalistik yang inheren dalam filsafat Yunani Mazhab Aristotelian. Kaum ekstremis dari tradisi harfiah, yang sepenuhnya menentang rasionalisasi iman jenis apa pun. 
B.     Tinjauan Umum tentang Teologi Asy’ariyyah
            Kalam Asy’ariyyah pada awalnya merupakan reaksi terhadap kedua mazhab pemikiran yang bertentangan secara diametris, sebuah reaksi yang berupaya untuk membuka jalan tengan bagi umat. Tanpa menyiemptkan wahyu itu sendiri. Ia menampilkan rekonsilias antara tasybih (perbandingan atau analogi) dan tanzih (abstraksi atau ketidaksebandigan) dalam konsepsinya tentang Ketuhanan dengan memberikan sifat-sifat antropomorfis kepada Tuhan, seraya bersikukuh bahwa sifat-sifat ini harus diabstraksi, dan tidak boleh dipahami dalam pengertian harfiah. Mengenai kebebasan manusia, ia menyatakannya dalam cara yang dpat diterima dari sudut pandang teologis, menyeimbangkan takdir Ilahi dan tanggung jawab manusia.
            Meskipun Asy’ariyyah menerima pentingnya rasionalisasi iman, mereka pada umumnya menentang metodologi rasional dan spekulasi para filosof. Prinsip yang penting ini telah diremehkan para filosof, sebagai konsekuensi dari pendekatan rasionalistik mereka bahkan pada pengetahuan metafisika (spiritual). Asy’ariyyah memiliki semangat spekulasi intelektual yang independen. Semangat ini merupakan hasil dari beberapa kritisisme tajam terhadap fisika Aristotelian. Akibatnya, kaum Asy’ariyyah mampu untuk mengembangkan banyak gagasan orisinal berkenaan dengan ilmu-ilmu alam, khususnya dalam teori atomisme.
C.     Atomisme dan Konsepsi Asy’ariyyah tentang Alam.
            Kalam bertujuan untuk menggambarkan ketidakterbatasan Yang Mahakuasa hampir ke titik yang mengabaikan semua Kualitas Tuhan yang lain. Dorongan hebat di balik tindakan Tuhan, menurut Al-Asy’ari, adalah “apa yang diinginkan-Nya” dan “karena kehendak-Nya”. Diterapakan pada aktivitas Tuhan di alam, membangkitkan gagasan penting yang dikenal di Barat sebagai occasionalism yang didefinisikan sebagai kepercayaan akan kemahakuasaan Tuhan dalam kesendirian-Nya, yang keterlibatan langsungnya pada peristiwa di alam semesta dipandang sebagai manifestasi lahiriah atau kesempata (occasion). Dalam hal ini occasionalism jmuga berart sebuah penyangkalan terhadap kaussalitas dalam pengertian yang dipahami oleh para filosof dan ilmuwan. Oleh karena itu atomisme merupakan konsekuesi langsung dari prinsip keterputusan substansial segala sesuatu. Jadi atomisme Muslim dapat dikatakan memiliki basisnya dalam pprinsip teologis khusus dalam Islam, yang, dalam sejarah pemikirannya, telah diidentikkan dengna mazhab kalam.
            Al-Asy’ari yan menjawab kititsisme yang diajukan oleh tradisionis literal. Ia mengatakan bahwa Nabi bukannya tidak mengetahui masalah ini sehingga ia tidak membicarakannya, tetapi karena persoalan itu tidak muncul selama masa hidupnya. Al-asy’ari mengingatkan oengkritiknya, bahwa kita dapat menemukan prinsip umum (ushul) yang melandasi isu-isu dsan soal-soal fisik ini secara eksplisit dalam Al-quran dan hadis-hadis. Pendekatan Asy’ariyyah pertama mereka merumuskan sebuah kerangka teoretis umum berdasrkan dua sumber terpenting Islam, yaitu , Al-quran dan hadis. Mengenai rinciannya, pertama adalah karya-karya tentnag atomisme dari sumber-sumber non-Islam yang mereka ketahui. Jalan kedua melalui pemikiran spekulatif mereka senddiri, berdasarkan kekuatan reflektif dan metode pencarian rasional mereka.
D.    Sifat dan Karakteristik Atom-Atom Asy’ariyyah
            Asy’ariyyah mempostulatkan eksistensi partikel dalam bahasa arab (bentuk tunggal sebagai al-juz’ alladzi lam yatajazza’ yang makna harfiahnya adalah “bagian yang tak dapat di bagi. Partikel ini adalah satuan-satuan paling fundamental yang dapat eksis, dna yang darinya seluruh alam di ciptakan. Mereujuknya sebagai “atom-atom Asy’ariyyah”. Alam, yang didefinisikan Asy’ariyyah sebagai segala sesuatu selain Tuhan, terdiri atas dua unsur yang berbeda, atom dan aksiden (‘aradh). Atom adalah lokus yang memberi substansi pada aksiden.
            Karakteristik utama atom-atom Asy’ariyyah yang pertama adalah tidak memiliki ukuran atau besar (kam), dan homogen. Berbeda dari atom dalam filsafat Yunani.       Atom-atom tidak memiliki ukuran karena keluasan merupakan sifat ruang fisik, melibatkan gagasan tentang batas atau permukaan. Ruang juga atom, dan teologi mereka mengatakan bahwa atom itu yang menempati ruang fisik. Atom sendiri mreupakan entitas nonmateri, berada dalam ruang imajiner atau ruang hampa.
            Karakteristik atom Asy’ariyyah yang kedua adalah bahwa jumlahnya sudah tertentu atau berhingga. Asy’ariyyah menolak ketakberhinggan atom berdasarkan ayat AL-Quran : dan dia menghitung segala sesuatu dengan angka (Qs 72:28). Karakteristik atom Asy’ariyyah yang ketiga adalah bahwa ia dapat lenyap secra fitrah. Berpendapat bahwa atom tidak dapat bertahan untuk dua saat. Durasi setiap atom (baqa’) adalah sekejap. Ketiga Tuhan menciptakan atom susatu benda, Dia juga menciptakan di dalamnya aksiden-aksiden yang membuat benda itu wujud. Alasan mengapa Asy’ariyyah sangat setia dengan atomisme mereka adalah karena kerangka teoretisnya cukup komprehensif untuk menerima penejasan rasional tentang mukjizat. Pandangan umum Asy’ariyyah tentang gerak adalah bahwa gerak dan diam adalah “modi” substansi.
E.     Kausalitas dalam Perspektif Atomistik.
            Asy’ariyyah mengatomisasi materi, ruang dan waktu, yang akibatnya alam semesta menjadi wilayah keterpisahan, entitas konkret yang saling bebas. Asy’ariyyah menyangkal bahwa ada keterkaitan horisontal anatra benda-benda. Konsep sebab dan akibat dan gagasan tentnag hubungan wajib yang ada antara keduanya adalah penting bagi sains dan filsafat. Para filososf membedakan empat jenis sebab, yaitu materiel, formal, efisien, dan final. Perspektif ilmiah tentnag kausalitas berupaya untuk menjelaskan dunia dan semua fenomena, termausk mikjizat, dalam term-term “sebab-sebab alami” atau dengan merujuk pada fitrah makhluk tersebut, yang diberikan oleh Tuhan. Sebagai orang-orang ilmiah, mereka menekankan pentingnya sebab-sebab terdekat dan sekunder, tanpa melupakan asal usul Ilahiahnya.
            Para filosof berpendapat bahwa, secara fitrah, intelek nabi lebih unguul daripada semua manusia lain, dan senantiasa memiliki hubungan batin dengan Jibril, malaikat utama penyampai wahyu. Asy’ariyyah tidak menyangkal fakta bahwa fenomena alam menampakkan keseragaman yang menakjubkan. Pandangan mereka keseragaman ini hanya penampakan, tidak nyata, dalam artian bahwa ia tidak memiliki eksistentsi objektif. Dalam perspektif Asy’ariyyah, “hukum alam” tidak nyata secara objektif. Hukum tersebut adalah konstruksi mental semata yang ditentukan oleh kehendak Tuhan dan diberi status “hukum” oleh-Nya.
F.      Kedudukan dan Signifikan Atomisme Asy’ariyyah
            Atomisme Asy’ariyyah menempati posisi penting dalam teologi Sunni. Occasionalism kalam Asy’ariyyah memiliki dampak besar terhadap skolatisisme Latin dan juga filsafat pasca-Renainsans. Orang yang dicatat sebagai pembawa kalam ke Barat Latin adalah filosof dan teolog Yahudi yang terkenal, Musa bin Maimun (Maimonides). Atomisme Asy’ariyyah menyarankan adanya kemungkinan cara lain utnuk emamandan dan memahami alam, yang berbedsa dari metode yang digunakan dalam sains modern, tetapi berhasil dalam merumuskan sebuah teori atom yang terpadu yang mempunyai beberapa aspek yang sama dengan fisika kuantum kontemporer.

Pengantar kepada Filsafat Kedokteran Islam
Yang dimaksud dengan kedokteran islam adalah sistem kedokteran,yang dikonseptualisasi dan dikembangkan oleh orang islam dari berbagai ras, etnis,dan iklim selama lebih dari satu milenium sejak kelahiran komunitas islam yang pertama hingga sekarang. Menghidupkan kedokteran islam di dunia kontemporer tidak berarti penolakan total kedokteran modern. Pertimbangan utama dalam menghidupkan kembali filsafat kedokteran Islam adalah keyakinan yang teguh bahwa sistem kedokteran Islam adalah sistem yang paling sesuai dan paling efektif untuk memenuhi kebutuhan medis dan kesehatan umat islam. Kedokteran islam, sebagaimana juga aspek-aspek lain dari sistem kehidupan islam, semangatnya tak pernah bersifat penolakan secara utuh. Hal ini dikarenakan banyak unsur esensial dari filsafat kedokteran barat yang harus ditolak. Tetapi orang islam harus mengambil manfaat secara maksimal dari prestasi-prestasi yang dicapai oleh kedokteran modern dalam bidang pengetahuan biologi dan kedokteran, serta teknologi medis, hingga batas-batas yang memungkinkan. Dengan kata lain orang islam dewasa ini dihimbau untuk menghasilkan sintesis baru dibidang kedokteran di dalam kerangka kerja islam. Pengintregrasian pengetahuan biologi dan kedokteran yang ditemukan oleh para ilmuan modern, sejauh pengetahuan tersebut adalah benar dan bukan sekedar hipotesis atau bahkan hanya teori-teori, ke dalam kerangka filosofis kedokteran islam adalah mungkin karena kedokteran islam bersifat sintesis, holistik, dan ilmiah.

Pengaruh Sains Islam terhadap Konsepsi Kristen Abad Pertengahan tentang Alam
Terjadi penyebaran sains ke barat latin pada abad ke-10 dan ke-13. Selama penyebaran tahap pertama yaitu abad 10-11 ada beberapa naskah astronomi dan matematika yang diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Latin di Spanyol dan Jerman, serta naskah kedokteran yang ditemukan di Italia. Pada tahap berikutnya terdapat publikasi dan penyebaran ekstensif semua jenis karya ilmiah berbahasa arab, termasuk karya tentang alkemi.  Pada tahap akhir yamg terjadi pada abad 13 dan seterusnya. Pada abad ini terjadi reproduksi karya-karya muslim dalam segala cabang ilmu yang berharga telah diperoleh dalam bahasa Latin. Pada dekade kedua abad ke-13, mulailah upaya sistematis untuk menerjemahkan komentar-komentar atas Aristoteles ke bahasa Latin, dan pada abad yang sama muncullah sebuah mazhab dengan nama latin averroisme yang mengidentikkan Ibn Rusyd dengan Aristoteles. reaksi teologis terhadap rasionalisme dan filosofisme Averroisme, khususnya pandangan-pandangan filosofis yang secara langsung bertentangan dengan kitab suci, iman, dan kebijakan kristiani, lebih keras dan tajam. Dan Nama ibn Rusyid disamakan dengan pemikiran anti agama.

Kritik Umar Khayam terhadap Teori Pararel Euclid
Umar Khayyam adalah seorang penyair sekaligus matematikawan muslim. Salah satu kontribusinya dalam bidang matematika, dia menemukan metode memecahkan persamaan kubik dengan memotong sebuah parabola dengan sebuah lingkaran. Pada 1077 M, Khayyam menulis kitab Uqlidis yang berisi penjelasan kesulitan dari postulat-postulat Euclid, Khayyam turut menghasilkan Jawami al-Hisab yang mengandung rujukan awal mengenai segi tiga Pascal dan menguji balik postulat V Euclid yang berkaitan dengan teori garis sejajar. Umar Khayyam juga berkontribusi dalam geometri, khususnya pada teori perbandingan. Dalam kata-kata profesor Nasr, bagi Khayyam, matematikawan abad pertengahan, geometri Euclidean itu relavan, karena sifat simboliknya, dengan aspek realitas fisik. Bagi matematikawan modern, postulat-postulat geometeri hanya hipotesis semata yang kebenaran atau kepalsuan fisiknya tidak mereka pedulikan selama postilat itu konsisten satu sama lainnya.


Islam dan Bioetika
Pada bab ini akan menjelaskan tentang sifat dasar serta karakteristik tanggapan Islam terhadap apa yang dikenal di Barat sebagai bioetika. Pembahasan akan dipusatkan pada isu khusus tentang tubuh manusia dari sudut pandang Islam. Pada saat ini kita berhadapan dengan setumpuk masalah dan situasi baru di bidang biomedis yang belum pernah ada sebelumnya, seperti transplantasi organ, inseminasi buatan, dan perilaku. Sementara masalah-masalah lama seperti aborsi dan kontrasepsi telah menggabungkan isu-isu baru ke dalam persialan itu sebagai akibat dari diperkenalkannya teknologi biomedis modern. Ditemukan diskusi terperinci mengenai kondisi spesifik dan keadaan-keadaan dimana kontrasepsi dan aborsi diperbolehkan dalam Islam. Sementara Islam secara umum melarang aborsi pada setiap tingkat kehamilan, para fuqaha Muslim, dibimbing oleh prinsip syariah yang membolehkan kebutuhan untuk menghilangkan halangan dan memilih yang lebih ringan dari dua kejelekan jika tidak ada pilihan lain, sepakat bahwa ada keadaan-keadaan pengecualian yang mengharuskan aborsi bahwa ketika janin telah terbentuk dengan lengkap. Keadaan pengecualian ini muncul ketika telah ditetapkan dengan yakin bahwa melanjutkan kehamilan akan sangat membahayakan kehidupan si ibu.
Menurut Islam, manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna. Kenyataan ini disimbolkan dalam Al-Quran melalui sujudnya malaikat-malaikat di hadapan Adam karena perintah ilahi. Islam memandang manusia sebagai kesatuan yang utuh dimana semua bagiannya saling tergantung satu sama lain. Ajaran islam memberi penekanan kuat terhadap persoalan kesehatan dan kebersihan pribadi. Dalam teori dan praktiknya, kedokteran Islam memandang perintah agama tentang masalah kesehatan dan kebersihan ini sebagai cara yang paling baik untuk mencegah penyakit. Kebersihan ritual menghendaki setiap Muslim membasuh diri mereka secara teratur. Untuk melakukan lima shalat harian, mereka harus melakukan wudhu dimana mereka diperintahkan untuk mencuci bagian-bagian tubuh tertentu. Faktor kesehatan lain yang lebih diberi penekanan besar oleh Islam adalah diet. Cara makan Muslim, sebagaimana yang diatur dalam syariah, memiliki efek penting terhadap kondisi umum kesehatan mereka. Keindahan dan sifat-sifat baik baik merupakan menifestasi jiwa-jiwa yang baik, sementara sifat-sifat jelek disebabkan oleh jiwa-jiwa yang jelek. Selain larangan makanan, perintah agama seperti puasa, memakan lebih sedikit daripada yang dikehendaki selera, dan makan dengan perlahan, juga membantu untuk mengatur cara makan Muslim. Dalam salah satu hadist qudsi Tuhan berbicara melalui Nabi:
“ Wahai orang yang beriman! Kesehatan yang baik merupakan penghubung antara engkau dan dirimu sendiri tetapi penyakit membuat penghubung antara engkau dan aku. “
Jadi, dalam keadaan sehat dan sakitnya, seorang Muslim diperintahkan oleh agamanya untuk memberi perawatan yang memadai bagi tubuhnya. Dan ketika dia mati, tubuhnya mesti mendapat penghormatan yang pantas diperolehnya menurut Hukum Ilahi Islam. Ketika berbicara tentang kesehatan total individu, dan bukan hanya kesehatan fisiknya, penting juga untuk mengatakan pandangan Islam tentang pakaian karena pakaian secara langusung berkenaan bukan hanya dengan tubuh tetapi juga jiwa. Khusus untuk pakaian perempuan Muslim, tidak boleh tembus pandang atau terlalu ketat sehingga membentuk lekuk-lekuk tubuhnya. Dalam Islam, keindahan bentuk tubuh manusia dihijab. Dari sudut pandang hukum, alasan utama untuk penghijaban adalah untuk mengatur nafsu manusia agar dapat menciptakan iklim religius dan spiritual yang sehat dimana manusia senantiasa diingatkan pada tugas-tugasnya terhadap Tuhan. Keindahan penampilan seseorang secara keseluruhan dan sikap luarnya diperoleh ketika gerakan-gerakan berbagai bagian tubuhnya seimbang dan harmonis.  Gerakan-gerakan tubuh yang seimbang dan harmonis terwujud jika seseorang berlaku sesuai dengan Hukum Tuhan itu sendiri. Seseorang mesti menjauhkan diri dari tindakan-tindakan yang dilarang dan tidak didorong oleh hukum karena setiap perbuatan dosa, kata Nabi menciptakan sebuah lapisan karat di hati. Dikatakan dalam Islam bahwa dalam shalat, unsur-unsur spiritual, intelektual, psikologis, dan fisik manusia semuanya berada dalam keadaan harmonis dan seimbang. Dalam gerakan pertamadari setiap rakaat shalat, pelaku shalat berdiri tegak. Sikap tegak lurus ini adalah citra dari jalan lurus yang dimohonnya kepada Tuhan agar ditunjukkan padanya. Berdiri disusul oleh ketundukkan dimana pelaku shalat diperintahkan untuk meletakkan bagian atas tubuhnya, dari kepala hingga paha, sejajar dengan tanah. Ruku disusul oleh sujud dimana si pelaku shalat menempelkan keningnya di tanah, tubuhnya terlipat seperti pada posisi janin. Ketika ruku ia telah mengagungkan Tuhan sebagai yang tak berhingga, yang mencakup segala sesuatu pada level horizontal. Dan ketika sujud ia direduksi menjadi dimensi-dimensi intinya sendiri yang paling dalam. Dengan cara ini tubuh fisik seseorang telah melakonkan berbagai hubungan antara khaliq dan makhluk.



Islam, Sains dan Teknologi : kegemilangan masa lalu, kesuraman masa kini dan pembentukan masa depan
A.    Tantangan-tantangan kontemporer dan kesulitan-kesulitan masa kini :
Pandangan sekuler dan duniawi dari sains dan teknologi pada sebelum zaman modern itu sama sekali asing bagi pandangan dunia Islam dan ajaran- ajaran Alquran tentang peradaban manusia, kemajuan, dan perkembangan. Alquran menyatakan dengan tegas dalam surat III ayat 110 bahwa :
“kamu adalah bangsa (ummah) yang terbaik dari seluruh manusia; mengajak kepada apa-apa yang baik, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah”
Ayat diatas adalah satu diantara sekian banyak ayat dalam Alquran yang memberi kaum muslimin rumusan untuk keberhasilan menciptakan peradaban yang gemilang dan besar berdasarkan spiritual dan moral.
Rumusan dan kriteria yang dipersoalkan terkandung dalam tiga prinsip universal yang fundamental :
1.      Pengembangan, penanaman, dan penyokongan yang baik,benar dan berguna, serta segala sesuatu yang disebut dengan istilah ma’ruf dalam  Alquran
2.      Mengecam dan mencegah kemungkaran dan keburukan serta dengan segala sesuatu yang disebut dengan istilah munkar
3.      Iman kepada Tuhan Yang Maha Esa

B.     Kegemilangan masa silam : sebuah sumber inspirasi
Faktor-faktor utama yang menentukan kebangkitan dan kegemilangan sains islam selama zaman keemasan :
1.      Peran kesadaran religius sebagai daya dorong untuk menuntut sains dan teknologi
2.      Ketaatan pada syariah mengilhami studi atas berbagai ilmu
3.      Kelahiran dan kebangkitan gerakan penejermahan besar-besaran yang bertahanselama beberapa abad
4.      Suburnya filsafat yang ditujukan pada pengajaran, kemajuan, dan pengembangan ilmu
5.      Luasnya santunan bagi aktivitas sains dan teknologi oleh para penguasa
6.      Adanya iklim intelektual dengan melangsungkan debat intelektual secara jujur dan rasional tetapi dalam semangat saling menghormati
7.      Peran penting lembaga-lembaga pendidikan ilmiah terutama universitas
8.      Keseimbangan yang dicapai oleh perspektif intelektual islam yang utama

C.     Pembentukan masa depan
Kaum muslimin masa kini harus berpegang teguh pada gagasan untuk membuat islam sebagai daya dorong utama bagi pengembangan ilmiah dan teknologi mereka. Orang dapat terilhami untuk mempelajari dan menguasai sains dan teknologi karena berbagai alasan seperti agama, ideologis, ekonomi, dan politis. Menurut kami motif yang paling baik adalah religious karena mencakup alasan-alasan spiritual, etika dan filosofis. Itu merupakan faktor terpenting yang menyebabkan keunggulan prestasi kaum muslimin masa silam di bidang sains dan teknologi. Kunci kearah masa depan yang lebih baik adalah pendidikan. Pemdidikan merupakan bentuk investasi yang paling baik yang tujuan utamanya adalah untuk memampukan “budaya pengetahuan” berakar kuat di masyarakat muslim kontenporer.


Sains-sains Terapan dan Rekayasa dalam Perspektif Tauhid dan Syariah
Tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran kuliah :
1.      Untuk menghasilkan ilmuwan, insinyur dan teknolog yang tidak hanya berkualifikasi dan kompeten secara professional tetapi juga seorang manusia yang dapat di percaya secara spiritual, intelektual, dan moral
2.      Menciptakan model perkembagan dan kemajuan ilmu dan teknologi baru yang bersifat seimbang dan holistik
3.      Menegakkan ajaran universal yang ditekankan dengan kuat dalam islam bahwa semua pengetahuan adalah suci dan bermoral
4.      Menghasilkan spesialis dalam berbagai cabang ilmu terapan dan rekayasa yang pada saat yang sama memiliki dasar pengetahuan yang baik tentang prinsip agama
5.      Menghasilkan ilmuwan dengan pikiran yang kreatif, objektif, dan mandiri
Prinsip- prinsip tauhid dari sains-sains terapan dan rekayasan :
1.      Struktur matematis, biologi, dan kimia-fisik kosmos menurut Alquran dan hadis
2.      Mengenal prinsip-prinsip ilmiah, rekayasa, dan teknologi
3.      Konsep Alquran tentang “tanda-tanda Tuhan” sebagai basis intelektual prinsip tauhid kosmos sebagai manifestasi nama-nama dan sifat-sifat Tuhan
Prinsip-prinsip syariah yang mengatur wproses perkembagan ilmu dan teknologi :
1.      Lima kategori tindakan manusia, yakni wajib, haram, mandub, makruh, dan mubah
2.      Kedudukan manusia sebagai khalifah Tuhan di bumi
3.      Iklim geografis dan konteks sosio-kultural perkembangan ilmu dan teknologi



No comments